Klausul 6.1.2 adalah jantung teknis ISO 45001 — proses yang menjawab pertanyaan paling mendasar: apa yang bisa mencelakai orang di tempat kerja ini, seberapa besar kemungkinannya, dan apa yang kita lakukan terhadapnya? Artikel ini membahas metodologi lengkap sesuai persyaratan klausul 6.1.2, dengan matriks penilaian dan contoh register risiko yang bisa Anda adaptasi.
Cakupan Wajib Identifikasi Bahaya (Klausul 6.1.2.1)
ISO 45001 secara eksplisit menuntut identifikasi bahaya mempertimbangkan hal-hal yang sering terlewat metode identifikasi sederhana:
- Aktivitas rutin dan non-rutin — termasuk perbaikan, pembersihan, dan kondisi darurat, bukan hanya operasi normal;
- Faktor manusia — kemampuan, keterbatasan, dan perilaku manusia dalam desain pekerjaan;
- Perubahan — organisasi, operasi, proses, peralatan, tenaga kerja, atau pengetahuan tentang bahaya;
- Bahaya di luar kendali langsung — misalnya aktivitas kontraktor, atau bahaya dari lokasi kerja yang berdekatan;
- Bahaya di sekitar tempat kerja yang bisa berdampak buruk pada kesehatan dan keselamatan orang di bawah kendali organisasi;
- Cara pekerjaan diorganisasikan — faktor sosial termasuk beban kerja, jam kerja, kepemimpinan, dan budaya organisasi.
Langkah Praktis: Empat Tahap
1. Pecah Aktivitas
Daftar aktivitas per area dengan detail memadai — jangan terlalu kasar ("produksi") atau melupakan aktivitas non-rutin (perbaikan, kondisi darurat, pekerjaan kontraktor).
2. Identifikasi Bahaya per Kategori
| Kategori | Contoh pertanyaan pancingan |
|---|---|
| Fisik/mekanik | Bagian bergerak? Ketinggian? Listrik? Kebisingan? |
| Kimia | Bahan yang disentuh/terhirup? Ada lembar data keselamatan? |
| Biologis | Kontak dengan orang sakit, limbah, air menggenang? |
| Ergonomi | Angkat manual? Gerakan berulang? Postur janggal? |
| Psikososial | Kerja shift? Beban kerja? Kekerasan di tempat kerja? |
3. Nilai Risiko dengan Matriks
Skor risiko = Kemungkinan × Keparahan, dengan definisi konkret per level (skala 1–5 umum dipakai). Nilai berdasarkan kondisi hari ini dengan pengendalian yang benar-benar ada — bukan yang direncanakan.
4. Tetapkan Pengendalian Sesuai Hierarki
Ikuti urutan wajib dari klausul 8.1.2: eliminasi → substitusi → rekayasa teknik → administratif → APD. Nilai ulang risiko sisa setelah pengendalian tambahan diterapkan.
Contoh Register Risiko (Cuplikan)
| Aktivitas | Bahaya | Risiko awal | Pengendalian tambahan | Risiko sisa |
|---|---|---|---|---|
| Pengelasan pipa (non-rutin) | Kebakaran, asap las, silau | Tinggi | Izin kerja panas, fire watch, ventilasi lokal, APD las | Rendah |
| Entry tangki (non-rutin) | Atmosfer berbahaya | Ekstrem | Gas test berlapis, isolasi energi, attendant, rescue plan | Rendah |
| Operasi forklift (rutin) | Tertabrak pejalan kaki | Tinggi | Pemisahan jalur, SIO operator, aturan kecepatan | Sedang |
Kaitan dengan Objektif K3 dan Pengendalian Operasional
Hasil register risiko ini langsung menjadi masukan dua hal: objektif K3 (klausul 6.2) yang menargetkan penurunan risiko prioritas, dan pengendalian operasional klausul 8 yang mewujudkan pengendalian di lapangan. Register yang tidak terhubung ke keduanya hanya menjadi dokumen mati.
Ringkasan
- Klausul 6.1.2 menuntut cakupan identifikasi bahaya yang luas — rutin, non-rutin, faktor manusia, perubahan, dan bahaya eksternal.
- Metode (HIRADC atau lainnya) bebas dipilih, selama konsisten dan bisa dijustifikasi.
- Register risiko harus terhubung ke objektif K3 dan pengendalian operasional — bukan dokumen berdiri sendiri.